KOSAKATA RINDU
"Sial! Gak suka banget gue liat tuh dosen." Radit terus mengoceh sepanjang perjalanan, sambil menendang apapun yang dihadapannya, entah itu bungkus makanan ataupun kemasan minuman.
"Dah lah bro, mau gimana lagi, dosen gak pernah salah." Aku sedikit tertawa agar perasaan temanku itu lebih membaik.
"Tapi emang sial banget sih kita, dua semester berturut-turut dia terus yang masuk kelas kita. Gara-gara dia yang mager ngajar, tugas akhir jadi telat gini, bisa batal liburan dah nih." Sofyan yang berjalan bersama kami pun tak kalah kesalnya, bagaimana tidak, ia sudah jauh-jauh hari membeli tiket mudik.
"Udah lah, mau gimana lagi, sabar-sabarin aja." Jawabku.
"Mi, kamu kok bisa tenang gitu sih? emang kamu gak mau mudik apa?" Tanya Sofyan yang kesal dengan ketenanganku.
"Dia terlalu cinta sama kampus, biarin aja." Timpal Radit dengan kekehannya.
Aku hanya tersenyum kecil menanggapi mereka, ah sudahlah.
*
Kututup wajahku dengan bantal, berharap kantuk segera datang. Buka-tutup, kulakukan gerakan itu berulang kali namun nihil. Kugulingkan tubuhku kekanan dan kekiri, berharap mata mau bernegoisasi, nihil juga. Belakangan aku benci saat sulit tertidur, benci ketika sepinya malam membuatku semakin merindukannya.
Kira-kira kini apa yang tengah dilakukannya? apa ia sudah makan malam? apa hari ini terasa sulit untuknya? ingin rasanya aku berlari kepelukannya, dan mengatakan semua akan baik-baik saja, tak ada yang perlu dikhawatirkan.
"Mi! Woi Bumi!!" Aku tersentak ketika Sofyan memanggilku, ah ternyata dia belum tidur.
"Apa? jangan begadang mulu kamu, ga baik."
"Ya kan jam segini mabar yang seru, biar cepet naik level.O iya, kamu kenapa belum tidur? mikirin tugas akhir?" Tanyanya yang diakhiri kekehan.
"Haha, tau aja kamu, dah ah sana, mau fokus mikirin tugas nih." Lagi-lagi aku hanya bisa berbohong, biarlah hanya aku yang tahu bahwa diriku tak baik-baik saja.
"Bilo baliak Mi?" Pertanyaan Amak beberapa hari yang lalu hampir membuat tangisku pecah, kugigit bibir bawahku berharap air itu tak terjun bebas di pipiku.
Lewat via suara Amak menanyakan kapan aku akan pulang menemuinya, sebuah pertanyaan yang bahkan aku sendiri sulit menjawabnya.
"Nanti mak, kalau sudah libur kuliah, Bumi baliak ka kampung."Jawabku.
"Kabarin Amak kalau sudah libur, biar Amak usahakan cari ongkos kamu pulang." Inilah alasan mengapa aku terus berbohong ketika ditanyakan kapan akan pulang ke tanah minang itu. Rasanya aku akan mati dalam keadaan malu jika terus merepotkan Amak yang berjuang sendirian di kampung.
"Mak, Bumi gak usah kuliah, bantu emak saja jualan disini, atau nanti Bumi cari kerjaan lain."Ucapku sebelum hari kelulusan sekolah.
"Manga?" Tanya Amak singkat yang berarti kenapa.
"Bumi indak mau memberatkan Amak, Bumi mau bantu Amak disini."
"Kalau kamu disini, justru kamu akan memberatkan Amak sepanjang hidup kamu, kalau kamu indak kuliah, mau jadi apa? Ba'a caronyo Bumi dapek pekerjaan bagus kalau indak kuliah?" Aku hanya terdiam mendengar perkataan Amak, aku sendiri juga tak tahu bagaimana caranya mendapatkan pekerjaan jika hanya bermodalkan ijazah SMA di era yang memaksa calon pekerja untuk bertarung sengit demi mendapatkan lapangan pekerjaan.
"Amak indak kesepian kalau Bumi kuliah?"
"Semua orang tua akan berakhir kesepian, mau bagaimanapun keadaan seperti itu akan datang." Jelas Amak sambil mempersiapkan dagangannya yang akan ia bawa ke pasar.
Hari itu aku bertekad akan menempuh pendidikan dengan usaha maksimalku, lulus dengan nilai bagus dan mendapatkan pekerjaan agar bisa membahagiakan Amak.
Setelah kepergian Apak, aku hanya hidup berdua dengan Amak, aku anak tunggal, hanya Amak yang aku punya, tak heran jika kepergianku membuat Amak kesepian dan menanyakan kepulanganku.
*
Institut Pertanian Bogor. Kini sudah memasuki tahun pertamaku di kampus ini, bekal keahlianku dalam pelajaran Matematika dahulu mengantarkanku ke kampus ini, tentu saja di jurusan Matematika juga. Aku beruntung menjadi deretan Mahasiswa penerima bidikmisi, jika tidak bagaimana mungkin aku bisa berkuliah disini. Hanya saja untuk pulang, tiket pesawat begitu mahal dan aku tak ingin melihat Amak kesusahan disana apalagi sampai berhutang hanya demi kepulanganku.
Hari ini aku dan teman-teman sekelasku sedang menunggu kabar dari dosen yang katanya menyebalkan itu, namun bagiku dosen seperti beliau menjadi penyelamatku karena aku tidak harus berbohong soal libur kepada Amak.
"Ah tinggal kita doang ni yang belum libur, kampus dah sepi gini."Tampang Radit saat ini sangat menggambarkan jika ia sedang kesal.
"Belum ada kabar juga ya di grup kelas? capek banget bawa-bawa kertas tugas terus kalau dosennya ga hadir-hadir gini." Rutuk Sofyan sambil menyeruput teh manis dingin yang dipesannya.
"Udah sabar aja, palingan minggu ini pasti bakal dah beres kok,"Hiburku.
"Kuat banget sih lo Mi, semester kemarin kan lo juga gak pulang gara-gara ada projek bantuin dosen, tapi lo kok tenang terus ya? ga kaya yang lain udah panik gini, hebat lo." Aku hanya tersenyum kecil menanggapi perkataan Radit. Wajahku tersenyum, hatiku berantakan.
Kami memilih menunggu kabar dengan nongkrong di warteg depan kampus, jika kami memilih untuk menunggu di rumah, maka bisa saja dosen itu tiba-tiba mengabari ia sudah di kampus dan akan pergi dalam 10 menit, tamatlah sudah jika begitu ceritanya.
Drrt!
Sebuah pesan masuk ke ponselku, dari Amak.
"Mi, Amak lihat si Angga senior di kampus kamu sudah di rumah orang tuanya nak, kalian sudah libur kan? Capekla baliak Mi, Amak rindu."
'Amak Rindu' Kalimat itu membuatku kembali menggigit bibirku, ah sial! Kutundukkan kepalaku dalam-dalam, berharap ekspresiku saat ini tak tampak oleh teman-temanku.
"Mi, ada apa?" Sofyan memegang bahuku. Aku hanya menggeleng pelan.
"Lo baik-baik aja Mi? kenapa woi?" Tanya Radit.
Hancur sudah pertahananku selama ini. Kata "Kenapa" membuat tangisku pecah.
"Astaga ya Allah kenapa ni anak? cerita ada apa?"Radit yang tadinya kesal berubah menjadi panik dan kebingungan melihat tingkahku. Sedangkan aku hanya sibuk menutupi wajahku sambil sesekali sesegukan, sebenarnya aku sangat malu, namun rasa rindu berhasil menang karena ia lebih besar dari rasa apapun saat ini.
Karena aku yang tak kunjung menjawab, Sofyan meraih ponselku dan membaca pesan Amak disana, setelah itu ia langsung memelukku tanpa berkata apa-apa lagi. Radit yang semakin heran juga ikut memelukku tanpa bertanya apa-apa, setidaknya ia tahu temannya sedang terluka dan ia harus membantu menguatkan.
*
Malam pun kembali ke rutinitasnya, menggantikan siang yang harus beristirahat sebelum kembali bertugas esok. Radit dan Sofyan duduk berhadapan denganku di kamar kosku. Aku hanya bisa menunduk dalam dan menyiapkan hati untuk terbuka dengan mereka.
"Kamu gak ada rencana pulang tahun ini?"Tanya Sofyan membuka percakapan. Aku hanya menjawabnya dengan gelengan lemah.
"Ga mau pulang atau ga bisa pulang?"
"Ga bisa,"Lirihku.
"Biaya ya?" Aku mengangguk pelan menjawab pertanyaan Sofyan.
"Lo tu ya, kenapa harus sok kuat sih dihadapan kita? lo ngehibur kita kalau lagi down, selalu keliatan baik-baik aja, seakan lo ga ada masalah, merasa gak guna gue sama Sofyan sebagai teman lo." Radit mengusap wajahnya kasar, aku yakin ia pasti kesal saat ini.
"Aku gak mau nyusahin kalian, kalian juga punya masalah, dan masalahku soal materi, aku ga mau memberatkan siapapun, makanya dari semester lalu aku coba nyari kerjaan dengan bantuin proyek dosen untuk nabung ongkos pulang."
"Woi Bumi! kita itu temen lo, gunanya temen itu gak pas lo senang aja, lo juga punya hak buat cerita ke kita tentang masalah lo, lo kan juga udah liat gimana gue sama Sofyan saling terbuka sama lo, lo kenapa ga bisa hah? dah lah kesel gue liatnya." Radit bangkit dari duduknya lalu melangkah pergi meninggalkan kami.
"Maaf Yan." Sofyan hanya menepuk bahuku dan beranjak pergi menuju kamarnya.
Aku tak tahu jika tindakanku yang tidak ingin membebani mereka akan berakhir begini, sepertinya benar kata Amak dahulu "Satu kebohongan yang kamu ciptakan untuk mempertahankan hubungan, akan berakhir membunuh hubungan itu sendiri."
*
Hari ini aku pergi mengantarkan tugas ke kampus setelah penantian yang panjang, tentu saja menanti kepastian dosen.
Sepi. Tak ada Sofyan ataupun Radit. Radit pergi duluan sejak pagi tadi dan Sofyan juga entah kemana, aku tak melihat mereka seharian ini, entahlah mungkin mereka sengaja menghindar dariku.
"Siang bu, ini tugas saya." Ucapku seraya memberikan kertas-kertas tugas akhir.
"Bumi kamu langsung antarkan tugas kamu ke mobil saya bisa? ada di parkiran, soalnya tugas kelas kalian udah saya taruh disana." Aku hanya menggangguk dan melangkah menuju parkiran.
Perjalanan menuju parkiran begitu sepi, wajar saja tak ada lagi mahasiswa yang datang ke kampus, dan teman-temanku yang lain sudah sejak tadi mengumpulkan tugas.
Tiba-tiba aku melihat dua manusia yang biasanya selalu mengikutiku kemanapun aku pergi, siapa lagi kalau bukan Radit dan Sofyan.
"Sekarang kita udah sah libur kan?" Tanya Sofyan tiba-tiba ketika berjalan ke arahku.
"Iya, selamat ya akhirnya kalian bisa mudik," Ucapku.
"Lo juga bisa kok." Sambung Radit sambil memberikan selembar tiket yang membuatku terperanjat kaget.
"Ini?"
"Udah, mudik sono, gue sama Sofyan minjamin tabungan kita buat elo, kita juga udah ijin sama orang tua kita kok, lo bisa bayar entar kalau lo udah punya uang."
"Makasih.." Entah sudah bagaimana ekspresi wajahku saat ini, yang pasti air mata sudah terjun bebas membasahi pipiku.
"Ah cengeng banget kamu Mi, cupu." Kekeh Sofyan sambil memukul lenganku.
Aku hanya ikut tertawa sambil mengusap wajahku kasar, hari itu aku banyak belajar. Dari merantau kau akan tahu seperti apa dirimu sebenarnya, seperti apa arti perjuangan sebenarnya, seperti apa arti keluarga sebenarnya, dan seperti apa teman-temanmu sebenarnya.
Mak, Anakmu pulang..


Komentar
Posting Komentar